Rian selalu iri pada orang-orang yang bisa membaca buku tebal dalam semalam, yang bisa mengutip baris-baris dari penulis klasik, atau yang matanya berbinar-binar saat membicarakan plot sebuah novel. Ia sendiri? Buku baginya hanyalah tumpukan kertas berdebu yang lebih cocok menjadi ganjalan pintu daripada teman. Jangankan membaca, melihat sampulnya saja sudah membuat matanya lelah. Namun, ada benih keinginan yang terus tumbuh di benaknya: ia ingin membaca. Ia ingin menjadi seperti mereka.
Awalnya, niat itu muncul hanya karena tuntutan. Skripsinya membutuhkan referensi yang banyak, dan ia merasa kewalahan dengan tumpukan jurnal dan buku yang harus dibaca. Ia mencoba. Membuka halaman pertama, membaca dua paragraf, lalu matanya mulai melirik ponsel. Notifikasi media sosial lebih menarik daripada deretan kalimat di depannya. Akhirnya, buku itu kembali teronggok. Frustrasi melanda.
Suatu sore, saat menyeruput kopi di kedai dekat kampusnya, ia melihat seorang gadis sebaya yang asyik membaca. Tidak ada ponsel di tangannya, tidak ada gangguan lain. Hanya dia dan bukunya. Rian memberanikan diri mendekat. "Maaf, boleh saya bertanya?" sapanya canggung. Gadis itu tersenyum ramah, menutup bukunya. "Tentu."
"Saya... sayya ingin sekali bisa membaca seperti Anda," kata Rian jujur. "Tapi entah kenapa, sulit sekali. Ada tips?"
Gadis itu, yang memperkenalkan diri sebagai Luna, tertawa kecil. "Dulu saya juga begitu. Jangan khawatir, itu wajar. Membangun kebiasaan memang butuh trik." Luna kemudian berbagi beberapa tips yang terbukti efektif baginya. "Mulailah dari yang kecil," katanya. "Jangan langsung menargetkan membaca buku tebal. Pilih buku yang menarik minatmu, apapun genrenya. Komik, novel ringan, artikel di majalah. Apapun."
Rian pulang dengan semangat baru. Malam itu, ia mencoba menerapkan saran Luna. Ia mencari buku yang sekiranya tidak terlalu menakutkan: sebuah novel fiksi ilmiah tipis dengan sampul yang menarik. Ia mencoba membaca satu bab saja. Sepuluh menit pertama terasa berat, pikirannya melayang ke mana-mana. Namun, ia mencoba fokus. Kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf. Ketika ia selesai satu bab, ada sedikit rasa puas yang menjalar. Ia berhasil!
Hari berikutnya, Rian memutuskan untuk mengatur waktu membaca yang spesifik. Setiap malam sebelum tidur, ia akan meluangkan 15 menit untuk membaca. Ponselnya diletakkan jauh dari jangkauan. Ia bahkan membuat ritual kecil: menyeduh teh hangat, menyalakan lampu redup, dan duduk di kursi favoritnya. Awalnya, 15 menit terasa seperti selamanya. Ia sering menguap, bahkan hampir tertidur. Namun, ia bertekad. "Ini hanya 15 menit, Rian," bisiknya pada diri sendiri. "Kamu pasti bisa."
Minggu pertama berlalu. Rian berhasil menuntaskan novel pertamanya. Rasa bangga itu tak terlukiskan. Ia merasa seperti baru saja mendaki gunung tertinggi. Ia mulai menyadari bahwa membaca tidak sesulit yang ia bayangkan, asalkan dimulai dengan langkah kecil.
Luna juga menyarankan untuk mencari lingkungan yang kondusif untuk membaca. Rian mencoba pergi ke perpustakaan kampus atau kafe yang tenang saat jam senggang. Di sana, ia melihat banyak orang lain membaca. Lingkungan yang mendukung itu seolah memberikan energi positif, mendorongnya untuk ikut membuka buku. Ia juga mulai bergabung dengan sebuah klub buku kecil di kampus. Di sana, ia bertemu orang-orang dengan minat yang sama, berbagi rekomendasi buku, dan berdiskusi. Obrolan tentang buku-buku yang ia baca membuat dunia literasi terasa lebih hidup dan menarik.
Kebiasaan mulai terbentuk. 15 menit menjadi 30 menit, lalu satu jam. Novel fiksi ilmiah diganti dengan novel sejarah, lalu buku pengembangan diri, hingga akhirnya ia memberanikan diri menyentuh buku-buku filsafat yang dulu ia pandang ngeri. Rian mulai merasakan manfaat membaca secara langsung. Kosakatanya bertambah, kemampuannya berargumen meningkat, dan wawasannya meluas. Ide-ide baru bermunculan di benaknya, dan ia merasa lebih percaya diri dalam berdiskusi.
Tentu saja, ada hari-hari di mana Rian merasa malas. Ada godaan untuk kembali ke kebiasaan lama, untuk membuka media sosial alih-alih buku. Di saat seperti itu, ia teringat kata-kata Luna: "Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri. Jika ada hari kamu tidak bisa membaca, tidak apa-apa. Besok mulai lagi." Ia belajar untuk tidak menyalahkan diri sendiri, tetapi juga tidak menyerah. Konsistensi, bukan kesempurnaan, adalah kuncinya.
Ia mulai memahami bahwa membaca bukan hanya tentang mendapatkan informasi, tetapi juga tentang memperkaya jiwa. Setiap buku adalah jendela ke dunia baru, kesempatan untuk belajar dari pengalaman orang lain, atau menyelami pemikiran-pemikiran yang mendalam. Ia menemukan kegembiraan dalam menemukan karakter-karakter yang relatable, dalam memecahkan misteri bersama detektif fiksi, atau dalam memahami sejarah dari sudut pandang yang berbeda.
Bahkan, ia mulai mencatat kutipan-kutipan favoritnya, membuat mind map dari buku-buku non-fiksi, dan merekomendasikan buku kepada teman-temannya. Ironisnya, kini ia adalah orang yang matanya berbinar-binar saat membicarakan plot sebuah novel.
Suatu hari, ia bertemu Luna lagi di kedai kopi yang sama. "Rian, kamu terlihat berbeda," komentar Luna.
Rian tersenyum lebar. "Semua berkat kamu, Luna. Aku berhasil. Aku akhirnya bisa membaca."
Luna tersenyum kembali. "Bukan aku, Rian. Itu usahamu sendiri. Aku hanya menunjukkan jalannya. Kamu yang melangkahinya."
Rian mengangguk. Ia memandangi buku yang kini selalu ada di tasnya, sebuah novel tebal yang dulunya pasti akan membuatnya ciut. Ia membuka halaman pertamanya, merasa bukan lagi sebagai orang yang terpaksa, melainkan sebagai penjelajah yang haus akan petualangan. Kebiasaan membaca telah mengubahnya. Dari seorang yang hanya melihat tumpukan kertas berdebu, ia kini adalah seorang penjelajah dunia, satu halaman demi satu halaman. Dunia literasi telah membuka pintunya lebar-lebar untuknya, dan ia siap untuk terus melangkah lebih jauh.

0 Komentar